Kamis, 23 Februari 2017

Komunikasi Budaya Lokal Sebagai Strategi Pengembangan

Berbagai keunikan desa terkait dengan tradisi dan budaya menjadi hal penting yang dilestarikan lalu dikomunikasikan kepada masyarakat luas, sehingga memiliki gaung dan terdengar di seluruh dunia. Budaya yang ada tentu menjadi magnet untuk menarik wisatawan datang. 

Mereka (wisatawan) juga menjadi tertarik, sehingga tak hanya melihat, tetapi juga ikut melaklukannya. Misalnya, ikut metekap (membajak sawah secara tradisional), nandur (bercocok tanam), memasak dan tradisi lain yang ada di masing-masing desa. 

Keunikan budaya dari masing-masing desa menjadi kekhasan, sehingga budaya apa yang ada lalu diangkat lalu dikomunikasikan kepada masyarakat luas utamanya wisatawan.

Walau demikian, keunggulan masing-masing desa juga dalam bentuk atraksi wisata lainnya juga menjadi daya tarik. 

Dari masing-masing desa tersebut memiliki
atraksi wisata yang dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu atraksi wisata alam, atraksi wisata budaya, dan atraksi wisata buatan. 

Pertemuan antara masyarakat desa sebagai pelaku budaya local akan berinteraksi dengan wisatawan dari berbagai belahan dunia itu, sehingga terjadi komunikasi antar budaya. Komunikasi terjadi diantara masyarakat dengan wisatawan dapat menguatkan keinginan para wisatawan untuk berkunjung kembali. Mereka juga dapat menceritakan kepada keluarga, saudara juga teman-temannya maka terjadi promosi dari mulut ke mulut.

Komunikasi antarbudaya adalah komunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda (bisa beda ras, etnik, atau sosioekonomi, atau gabungan dari semua perbedaan ini. Komunikasi antarbudaya adalah komunikasi antara orang-orang yang berbeda budaya (baik dalam arti ras, etnik, atau perbedaan-perbedaan sosio ekonomi).

Kebudayaan adalah cara hidup yang berkembang dan dianut oleh sekelompok orang serta berlangsung dari generasi ke generasi. Komunikasi merupakan aktivitas dasar manusia, dengan berkomunikasi manusia dapat berhubungan satu sama lain baik dalam kehidupan sehari-hari dalam rumah tangga, di tempat kerja, di pasar, dalam masyarakat atau dimana saja manusia itu berada (Muhammad, 2003:1).

Dalam upaya menjaga hubungan yang harmonisasi antar masyarakat desa wisata dan wisatawan, mengedepankan empati merupakan sumber kekuatan hubungan di lingkungan masyarakat majemuk. Empati adalah kejujuran diri sendiri dalam komunikasi antarkelompok yang memiliki karakter tidak sama. 

Berempati bukan berarti kehilangan jati diri yang mengabaikan norma yang diyakini secara individual mapun kelompok, tetapi hanya penundaan sementara terhadap identitas diri dari atribut egosentris demi menghargai pihak lain. Dengan kata lain, komunikasi yang empati merupakan ekspresi dari kejujuran penghargaan terhadap diri sendiri untuk menyesuaikan dengan tuntunan kehidupan masyarakat majemuk yang memiliki keberagaman perilaku (wisatawan). 

Dengan menggunakan komunikasi empati, yang memposisikan seandainya mereka yang berbeda adalah “kelompok saya”, maka perbedaan nilai, sikap dan kepercayaan justru menjadi kekuatan dalam mencapai kesejahteraan (Eko Harry Susanto, 2013).

            Komunikasi yang perlu dijaga mesti mengacu pada Program Kementrian Pariwisata yaitu Sapta Pesona. 

Sapta Pesona berasal dari dua patah kata, yaitu Sapta” dan “Pesona”. 

Sapta Pesona ini dipahami sebagai 7 (tujuh) unsur yang terkandung dalam setiap produk pariwisata serta dipergunakan sebagai tolak ukur peningkatan kualitas produk pariwisata. 

Tujuan diselenggarakan program Sapta Pesona adalah untuk meningkatkan kesadaran, rasa tanggung jawab segenap lapisan masyarakat, baik pemerintah, swasta maupun masyarakat luas untuk mampu bertindak dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. 

Sapta Pesona merupakan kondisi yang harus diwujudkan dalam rangka menarik minat wisatawan berkunjung ke suatu daerah atau wilayah di Negara kita. 

Sapta Pesona terdiri dari tujuh unsur yaitu aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah tamah dan kenangan. 

Kita harus menciptakan suasana indah dan mempesona, dimana saja dan kapan saja. Khususnya ditempat-tempat yang banyak dikunjungi wisatawan dan pada waktu melayani wisatawan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar